Selamat Datang in "MARIOPUNALA" my blog

Selasa, 13 Juli 2010

Shalat Adalah Tiang Agama

SHALAT ADALAH TIANG AGAMA

Semua orang Islam sudah maklum, bahwasannya shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap semua orang yang menyatakan dirinya beragama Islam, baik laki-laki maupun perempuan, sama sekali tidak ada alasan untuk meninggalkannya, walaupun sedang di mana kita berada. Karena shalat merupakan tiang agama. Jadi tidak ada alasan untuk kita tinggalkan. Walaupun dalam kondisi yang bagaimanapun.
Saking pentingnya perintah shalat ini, untuk mengerjakannya, jika tidak mampu dengan berdiri karena sakit, maka dilakukan dengan duduk, jika tidak mampu dengan duduk, dilakukan dengan berbaring. Jika tidak mampu dengan berbaring, maka dilakukan dengan kedipan mata, dan jika tidak mampu dengan kedipan mata, hendaklah dilakukan dengan hati, dan jika dengan cara yang terakhir ini tidak mampu maka shalatkanlah (karena telah meninggal dunia -red).
Rasulullah bersabda :
“Shalat adalah tiang Agama, barangsiapa mendirikan shalat, berarti ia mendirikan Agama dan barangsiapa meninggalkan shalat, berarti ia merobohkan Agama”.

Hadis tersebut sudah jelas bahwa barang siapa meninggalkan shalat, dia dianggap melakukan pelanggaran, dengan sendirinya akan mendapatkan dosa besar. Biasanya orang yang meninggalkan shalat karena kesibukan. Karena kesibukannya itulah mereka lalai dan meninggalkan shalat lima waktu. Allah swt. berfirman; `Hai orang-orang yang beriman, jagalah harta-hartamu dan anak-anakmu, melalaikan kamu dari mengingat Allah, barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi`.
Para ulama tafsir menerangkan bahwa yang dimaksud mengingat kepada Allah pada ayat tersebut adalah, shalat lima waktu. Sehingga siapa saja yang sibuk mengurus harta, mengakibatkan lalai akan shalatnya, maka ia kelak akan merugi. Perlu diketahui kelak di hari kiamat, bahwa perbuatan manusia yang pertama kali dihisab adalah tentang shalatnya.
Terlebih-lebih shalat berjamaah, karena shalat berjamaah sangat dianjurkan, selain derajadnya 27 darajad dibanding dengan shalat sendirian, diriwayatkan pula dari Nabi SAW : “Barang siapa shalat lima waktu dengan berjamaat, maka baginya lima macam (hadiah) :
1. Dia tidak ditimpa kefakiran di dunia.
2. Allah membebaskan dia dari siksa kubur
3. Dia akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanannya,
4. Dia akan bisa malewti jembatan (shirathal mustaqim) laksana halilintar yang menyambar
5. Allah memasukkan ke surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa.
Sabda Nabi lagi : “Shalatnya seorang laki-laki dengan berjamaah, lebih baik daripada shalat di rumah sendirian selama empat puluh tahun”.
Celakalah orang yang mudah meninggalkan shalatnya, dia akan sengsara dan merugi serta akan mendapatkan siksa di Neraka. `Naudzubillah`. Allah SWT berfirman : “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka saqor?`, mereka menjawab: `Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang menjalankan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang-orang miskin.
Ada suatu riwayat menyatakan, ada seorang pendatang menghadap kepada Rasulullah saw. Ia bertanya “ `Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling disukai Allah dalam Islam?` Beliau menjawab: `Shalat tepat pada waktunya dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia berarti tidak mempunyai agama, sebab shalat adalah sebagai tiang agama`.
Jadi apabila ada orang yang mengaku beragama Islam, tetapi tidak mau mengerjakan shalat, berarti pengakuaannya itu tidak benar, dan orang yang semacam itu adalah sebagai pendusta dan akan ditetapkan sebagai penghuni neraka.
Sabda Rasulullah SAW : “Diantara seorang hamba (orang Islam) dengan orang kafir (letak perbedaannya) adalah shalatnya”. Kata Rasul; `Shalatlah sebagaimana aku shalat`. Dan perlu diingat, firman Allah bahwa: `sesungguhnya shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar`. Firman Allah berfirman :
    •     
Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk` (Qs Al-Baqarah 45).
Artinya mohon pertolongan Allah, melalui sabar dan shalat, yaitu shalat yang khusuk.
Landasan agama yang paling utama adalah perilaku shalat. Bukankah Allah dalam al Quran sudah menyatakan : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan tercela?”
Dalam kitab Tafsir Ibn Khatim kata al fach-sya’i diterjemahkan dengan kata zina. Bukankah kegiatan perselingkuhan juga bisa dikatakan perzinaan? Setidaknya kalau kita masih memahami bahwa kegiatan perselingkuhan dan ketidakjujuran pasangan kita sebagai perbuatan yang keji dan tercela, dorongan untuk berbuat korupsi, tidakkah kita pernah berpikir, “Jangan-jangan shalat saya masih bolong-bolong sehingga tidak mampu membendung keinginan berbuat tidak baik.” Tidak sedikit mereka yang berbuat tidak baik berkata, “Saya tidak pernah meninggalkan shalat”. Benarkah? Kalaupun benar shalat yang bagaimana yang sudah kita jalankan? Imam Ibn Abbas meriwayatkan sebuah hadist, yang berbunyi :
man la tanhahu shalatuhu ani al fach-sya’i wa al munkar, lam yazdad min Allah illa bu’dan.

Artinya : Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar maka orang itu tidak akan bertambah apapun dari sisi Allah kecuali bertambah jauh.

Sementara Imran Ibn Hasin meriwayatkan sabda Nabi :
Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar, maka sebenarnya tiada shalat baginya.

Imam Al Ghazali di dalam kitab Fath al Muin berpendapat bahwa shalat yang sah dan mampu mencegah perilaku yang tidak baik itu bila dilakukan dengan khusyuk, maka bagi al Imam, khusyu’ menjadi syarat sahnya shalat. Andai yang dibenarkan Allah terkait dengan hadits yang lain yang menyatakan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat wajahmu, jasadmu tetapi Allah melihat hatimu” adalah pendapat Imam Al Ghazali ini, adakah shalat kita yang sah? Berapa banyak shalat kita yang sah?
Sebagai pembuktian terbalik dari pendapat ini, kita mungkin sesekali dapat melakukan investigasi di pengadilan agama. Mereka yang bermasalah dalam keluarga rata-rata ahli shalat ataukah orang yang sering meninggalkan atau memiliki masalah dengan shalatnya?
Bagaimana dengan kita yang sholatnya masih didominasi hayalan dan kehidupan dunia. Shalat sambil bermimpi ini itu? Kita harus membiasakan shalat berjamaah! Dalam sebuah komunitas berjamaah, kebutuhan harus khusyu’ bagi masing-masing orang yang shalat itu dapat ditutupi oleh salah satu makmum yang bisa khusyu’, bila semua makmum tidak ada yang khusyu’ maka kebutuhan khusyu’ semua jamaah itu dicukupi oleh Imamnya. Karena itu pulalah shalat berjamaah memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk dikatagorikan sah dibanding shalat sendiri. Kalau shalat kita sah, Insya Allah shalat itu akan menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji. Bukankah Allah tidak akan mengingkari janji? Terkait dengan hal ini pula, Nabi pernah menyatakan :
Barang siapa yang selalu menjaga shalatnya dengan berjamaah tidak akan terkena kefaqiran selamanya

Arti fakir terdikotomi ke dalam fakir hati dan fakir harta. Untuk fakir harta, mungkin kita semua sudah memahaminya. Sementara mereka yang fakir hati adalah orang-orang yang selalu diliputi perasaan tidak puas atas apa yang ada dalam dirinya dan tidak mampu bersyukur. Sudah kaya atau minimal melebihi perekonomian tetangga sekitarnya, tetap saja memiliki hasrat mencuri, mark up atau korupsi. Sudah memiliki istri yang cantik, bodi bagus, tetap saja matanya jilalatan ketika melihat wanita lain. Bahkan tidak sedikit kita temui seorang lelaki dengan selingkuhan yang wajahnya tidak menjanjikan dan lebih jelek dari isterinya sendiri.
Merasa tidak puas dengan rizki yang diterima, mencari kerja ke luar negeri, tanpa memahami bahwa harta banyak bukanlah solusi. Bahkan kerusakan yang ditimbulkan tidak sebanding dengan harta yang diterima. Ancaman hukuman mati, pelecehan seksual dan kekerasan selalu menghantui pekerja Indonesia yang bekerja diluar negeri. Belum lagi pasangannya yang di Indonesia dengan alasan kesepian selingkuh dan menghabiskan harta kiriman pasangannya.
Dengan selalu menjalankan shalat secara berjamaah, minimal dengan pasangan nikahnya sendiri, Allah melalui lisan Rasulullah memberikan jaminan terbebas dari kefakiran baik kefakiran harta maupun hati. Orang bepergian ke luar negeri, pasti atas promosi atau cerita orang lain tentang rezeki yang berlimpah. Kita percaya dan kita berangkat ke sana mengais rizki. Seorang PNS pasti percaya akan jaminan pemerintah bahwa setiap awal bulan akan mendapat rizki berupa gaji bulanan. Orang yang berpromosi kerja di luar negeri, aparat pemerintah yang menciptakan ketentuan gaji bulanan, mereka semua adalah manusia, makhluk, ciptaan Allah. Kepada sesama ciptaan kita percaya, tetapi mengapa tidak percaya kepada yang mencipta?
Kalau kita selama ini tidak pernah mampu melalui cobaan-cobaan dunia baik berupa kefakiran hati maupun harta, mengapa kita meninggalkan jamaah shalat? Mengapa masa depan kita tidak kita usahakan dan pastikan dengan selalu berjamaah? Melihat jaminan Allah yang begitu hebat bagi kehidupan dunia dan akhirat, para kyai sepuh bahkan dalam menganjurkan berjamaah sampai berkata, “Kalau perlu membayar orang untuk membantu shalat kita agar terhitung jamaah!”. Berapapun harta yang kita keluarkan tidak akan sebanding dengan jaminan Allah yang begitu besar dan bernilai.
Dengan berjamaah, kita tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Pencipta, kitapun mampu membangun hubungan ruh dengan pasangan, sehingga pernikahan kita tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh kecintaan ruhani. Mencintai pasangan karena Allah akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati.
Dengan shalat berjamaah kita melakukan pendekatan diri kepada Allah. Dengan berbekal kedekatan kita kepada Allah, segala kebutuhan kita Insya Allah akan dicukupinya. Termasuk pula permohonan agar ketentuan dan takdir Allah menetapkan bahwa kita dan pasangan dilanggengkan dalam sebuah keluarga yang penuh kedamaian dan ketentraman. keluarga yang sakinah.
Sebagai kesimpulan, begitu pentingnya perintah shalat ini, untuk dikerjakan, jika tidak mampu dengan berdiri karena sakit, maka dilakukan dengan duduk, jika tidak mampu dengan duduk, dilakukan dengan berbaring. Jika tidak mampu dengan berbaring, maka dilakukan dengan kedipan mata, dan jika tidak mampu dengan kedipan mata, hendaklah dilakukan dengan hati, dan jika dengan cara yang terakhir ini tidak mampu maka shalatkanlah. Sebagaimana sabda Rasulullah
“Shalat adalah tiang Agama, barangsiapa mendirikan shalat, berarti ia mendirikan Agama dan barangsiapa meninggalkan shalat, berarti ia merobohkan Agama”.

Semoga diantara kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW, dapat menjalankan shalat 5 waktu secara teratur dan sempurna dan niscaya Allah SWT akan membalas dengan setimpal apa yang telah kita kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengunjung kiranya memberikan saran yg dapat membantu kami dalam penyempurnaan isi dari blog.